Ruang Lingkup Sosiologi Gender

+12

No comments posted yet

Comments

Slide 1

Ruang Lingkup Sosiologi Gender Oleh Risky Ariyani (3401409028)

Slide 2

Definisi Gender Gender adalah sifat yang melekat pada laki-laki atau perempuan yang dikonstruksikan secara sosial budaya Relasi antara laki-laki dan perempuan Adanya ketidaksamaan antara kesetaraan gender

Slide 3

Kedudukan sosiologi gender dalam ilmu sosial

Slide 4

Definisi Gender Konsep gender dan seks (jenis kelamin) masih sering dipahami secara rancu dalam masyarakat. Konsep gender yang sebenarnya merupakan peran dan perilaku laki-laki dan perempuan sesuai dengan pengaharapan sosial, sering kali dianggap sebagai ketentuan atau kodrat yang tidak dapat dirubah. Hal tersebut menjadi masalah karena kekeliruan tersebut menimbulkan ketidakadilan terutama bagi perempuan. Ketidakadilan gender termanifestasikan dalam berbagai ketidakadilan yakni: Marginalisasi atau proses pemiskinan ekonomi, subordinasi, pembentukan stererotipe, kekerasan, beban ganda, serta sosialisasi ideologi nilai peran gender (Fakih, 2010:13).

Slide 5

KETIDAKADILAN GENDER OLEH : RISKY ARIYANI (3401409028)

Slide 6

Mansour Fakih menggolongkan ada 5 bentuk ketidak adilan Gender yaitu : Marginalisasi dan Proses Pemiskinan Ekonomi Subordinasi / Anggapan tidak penting Stereotipe / Pelabelan Negatif Kekerasan Terhadap Perempuan Beban Ganda Perempuan (Double Burden)

Slide 7

Marginalisasi Marginalisasi (pemiskinan) sumbernya: kebijakan pemerintah, keyakinan tafsiran agama, keyakinan tradisi dan kebiasaan juga asumsi ilmu pengetahuan. Contoh kasus: Kebijakan revolusi hijau Pembagian waris

Slide 8

Subordinasi Anggapan perempuan: Irasional, emosional mengakibatkan perempuan tidak bisa tampil memimpin. Faktor tersebut berakibat munculnya sikap menganggap tidak penting posisi perempuan Contoh kasus: Perempuan Jawa dianggap tidak perlu bersekolah tinggi-tinggi, karena akhirnya kembali ke dapur. Aturan pemerintah, di mana istri harus ijin suami ketika akan studi lanjut ke luar negeri Keputusan orang tua memprioritaskan sekolah bagi anak laki-laki dari pada perempuan ketika keuangan keluarga terbatas

Slide 9

Stereotipe (pelabelan) Penandaan terhadap perempuan selalu merugikan dan menimbulkan ketidakadilan. Contoh kasus: Perempuan berolek dalam rangka memancing perhatian lawan jenis, maka dalam setiap ada kasus pelecehan seksual selalu dikaitkan dengan stereotipe tersebut. Masyarakat juga cenderung menyalahkan korbannya. Anggapan bahwa tugas perempuan adalah melayani suami maka ini juga berakibat jika pendidikan untuk perempuan dinomorduakan.

Slide 10

Kekerasan / Violence Adalah serangan atau invasi terhadap fisik maupun integritas mental psikologis seseorang. Kekerasan yang disebabkan oleh bias gender disebut gender related violence. Kekerasan gender antara lain: - pemerkosaan perempuan Tindakan pemukulan dan serangan fisik yang terjadi dalam rumah tangga (domestic violence) Penyiksaan yang mengarah ke alat kelamin (genital violence) Kekerasan dalam pelacuran Kekerasan dalam bentuk pornografi Kekerasan dalam bentuk pemaksaan sterilisasi dalam KB (enforced sterilization) Kekerasan terselubung (molestation) Pelecehan seksual (sexual and emotional harassment)

Slide 11

Beban kerja Pekerjaan domestik yang menjadi tugas perempuan seseungguhnya memakan waktu kerja yang panjang. Jika perempuan itu bekerja maka akan ada beban kerja ganda bagi perempuan. Bias gender itu diperkuat oleh pandangan dan keyakinan di masyarakat bahwa pekerjaan domestik adalah pekerjaan perempuan. Sementara apa yang menjadi anggapan itu, di nilai sebagai pekerjaan rendah dibandingkan dengan pekerjaaan lali-laki disektor publik. Apa yang dikerjaan oleh perempuan tidak dianggap bukan produktif.

Slide 12

Teori Nature dan Teori Nurture

Slide 13

Lanjutan . . . Oleh karena itu sudah sewajarnya perempuan bekerja di lingkungan keluarga. Tugas tersebut merupakan tugas yang diberikan oleh alam kepada perempuan, seperti melahirkan dan membesarkan anak-anak di lingkungan keluarga, memasak, memberikan pelayanan dan perhatian kepada suami agar rumah tangga harmonis. Laki-laki tugasnya di luar, mencari nafkah. Ini dipahami sebagai pembagian pekerjaan berdasarkan perbedaan seks yang diatur oleh alam. Hal ini berlangsung ribuan tahun, sehingga orang menganggap sebagai sesuatu yang alamiah. Saat ini, hal tersebut dianggap tidak adil bagi salah satu pihak.

Slide 14

Lanjutan . . . Secara badaniah laki-laki berbeda dengan perempuan. Dan ini tidak terbantahkan. Akan tetapi ketika berbicara mengenai perbedaan perempuan laki-laki pada tataran psikologis, maka akan timbul persoalan. Apakah perbedaan psikologis ebagai sesuatu yang terjadi secara ilmiah? Apakah sesungguhnya ini hanya berkaiatan dengan peranan yang dimainkan laki-laki dan perempuan saja. Jika perbedaan itu hanya sekedar peran, mengapa perempuan sebagai pihak yang dirugikan? Faktor apa yang menjadi landasan gejala ini?

Slide 15

Perbedaan psikologis antara laki-laki dan perempuan pada dasarnya berputar disekitar dua teori besar:

Slide 16

FeminisT Thought RISKY ARIYANI 3401409028

Slide 17

Sejarah Feminis Feminisme sebagai filsafat dan gerakan dapat dilacak dalam sejarah kelahirannya dengan kelahiran Era pencerahan di Eropa yang dipelopori oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condorcet. perkumpulan masyarakat ilmiah untuk perempuan pertama kali didirikan di Middelburg, sebuah kota di selatan Belanda pada tahun 1785. Menjelang abad 19 feminisme lahir menjadi gerakan yang cukup mendapatkan perhatian dari para perempuan kulit putih di Eropa. Perempuan di negara-negara penjajah Eropa memperjuangkan apa yang mereka sebut sebagai universal sisterhood.

Slide 18

Lanjutan . . . Dari latar belakang demikianlah di Eropa berkembang gerakan untuk ┬┤menaikkan derajat kaum perempuan┬┤ tetapi gaungnya kurang keras, baru setelah di Amerika Serikat terjadi revolusi sosial dan politik, perhatian terhadap hak-hak kaum perempuan mulai mencuat. Di tahun 1792 Mary Wollstonecraft membuat karya tulis berjudul Vindication of the Right of Woman yang isinya dapat dikata meletakkan dasar prinsip-prinsip feminisme dikemudian hari. Pada tahun-tahun 1830-1840 sejalan terhadap pemberantasan praktek perbudakan, hak-hak kaum prempuan mulai diperhatikan, jam kerja dan gaji kaum ini mulai diperbaiki dan mereka diberi kesempatan ikut dalam pendidikan dan diberi hak pilih, sesuatu yang selama ini hanya dinikmati oleh kaum laki-laki.

Slide 19

Jenis jenis aliran feminis Feminisme Liberal Feminisme Radikal Feminisme Marxis dan Sosialis

Slide 20

Feminisme Liberal Aliran feminisme liberal berakal dari filsafat liberalisme yang memiliki konsep bahwa kebebasan merupakan hak setiap individu sehingga dia harus diberi kebebasan untuk memih tanpa terkekang oleh pendapat umum dan hokum

Slide 21

Lanjutan . . . Akar teori ini bertumpu pada kebebasan dan kesetaraan rasionalitas. Perempuan adalah makhluk rasional, kemampuannya sama dengan laki-laki sehingga harus diberi hak yang sama juga dengan laki-laki. Oleh karena itu, mereka menuntut persamaan kesempatan dibidang pendidikan, politik, sosial, ekonomi, maupun personal

Slide 22

Feminisme Radikal Aliran ini bertumpu pada pandangan bahwa penindasan terhadap perempuan terjadi akibat sistem patriarki (sistem yang berpusat pada laki-laki). Mereka memandang bahwa patriarki merupakan system kekuasaan yang seksis, yang menganggap laki-laki memiliki superioritas atas perempuan. Kelemahan di hadapan laki-laki adalah karena struktur biologis fisiknya, dimana perempuan harus mengalami haid, menopause, hamil, sakit haid dan melahirkan, menyusui, mengasuh anak, dan sebagainya. Semua itu membuat perempuan tergantungt pada laki-laki. Perbedaan fungsi reproduksi inilah yang menyebabkan pembagian kerja atas dasar seks yang terjadi di masyarakat.

Slide 23

Lanjutan . . . Aliran ini berupaya menghancurkan sistem patriarki, yang fokusnya terkait fungsi biologis tubuh perempuan. Mereka mencemooh perkawinan, menghalalkan aborsi, menyerukan lesbianism, dan revolusi seks. Bagi para feminis radikal, menjadi seorang istri sama saja dengan disandera. Tinggal bersama suami dianggap sama dengan musuh.

Slide 24

Feminisme Marxis Aliran ini memandang masalah perempuan dalam kerangka kritik kapitalisme. Asumsinya, sumber penindasan perempuan berasal dari eksploitasi kelas dan cara produksi. Teori Friedrich Engels dikembangkan menjadi landasan aliran ini. Status perempuan jatuh karena adanya konsep kekayaan pribadi (private property). Kegiatan produksi yang semula bertujuan untuk memenuhi kebutuhan sendiri berubah menjadi keperluan pertukaran(exchang e). Laki-laki mengontrol produksi untuk keperluan pertukaran, dan sebagai konsekuensinya mereka mendominasi hubungan sosial. Sedangkan perempuan direduksi menjadi bagian dari property.

Slide 25

Lanjutan . . . Untuk membebaskan perempuan dari penindasan dalam keluarga itu, Engels mengajak perempuan untuk memasuki sektor publik yang dapat membuat perempuan juga produktif (menghasilkan materi atau uang). Bahkan institusi keluarga perlu dihapus karena dianggap melahirkan kapitalisme. Sebagai gantinya, dibuatlah keluarga kolektif, dimana pekerjaan rumah tangga dilakukan secara kolektif, termasuk dalam hal pengasuhan dan pendidikan anak.

Slide 26

Feminisme Sosialis Sebuah faham yang berpendapat "Tak Ada Sosialisme tanpa Pembebasan Perempuan. Tak Ada Pembebasan Perempuan tanpa Sosialisme".Feminisme sosialis berjuang untuk menghapuskan sistem kepemilikan. Lembaga perkawinan yang melegalisir kepemilikan pria atas harta dan kepemilikan suami atas istri dihapuskan seperti ideMarx yang menginginkan suatu masyarakat tanpa kelas, tanpa pembedaan gender. Feminisme sosialis muncul sebagai kritik terhadap feminisme Marxis. Aliran ini mengatakan bahwa patriarki sudah muncul sebelum kapitalisme dan tetap tidak akan berubah jika kapitalisme runtuh. Kritik kapitalisme harus disertai dengan kritik dominasi atas perempuan. Feminisme sosialis menggunakan analisis kelas dan gender untuk memahami penindasan perempuan. Ia sepaham dengan feminisme marxis bahwa kapitalisme merupakan sumber penindasan perempuan.

Slide 27

Lanjutan . . . Akan tetapi, aliran feminis sosialis ini juga setuju dengan feminisme radikal yang menganggap patriarkilah sumber penindasan itu. Kapitalisme dan patriarki adalah dua kekuatan yang saling mendukung. Seperti dicontohkan oleh Nancy Fraser di Amerika Serikat keluarga inti dikepalai oleh laki-laki dan ekonomi resmi dikepalai oleh negara karena peran warga negara dan pekerja adalah peran maskulin, sedangkan peran sebagai konsumen dan pengasuh anak adalah peran feminin. Agenda perjuagan untuk memeranginya adalah menghapuskan kapitalisme dan sistem patriarki. Dalam konteks Indonesia, analisis ini bermanfaat untuk melihat problem-problem kemiskinan yang menjadi beban perempuan.

Slide 28

Sekian dan Terima kasih

Summary: Dasar dari sosiologi Gender

URL:
More by this User
Most Viewed
Previous Page Next Page
Komunikasi dalam Sekolah
Komunikasi da...
 
 
 
Previous Page Next Page