10 Pengendalian Mutu

+1

No comments posted yet

Comments

Slide 1

PENGENDALIAN MUTU CAMPURAN PANAS

Slide 2

PENGENDALIAN MUTU Kualitas Personil Tersedianya Laboratorium Yang Memadai Peralatan Yang Sesuai Dan Terkalibrasi Pelaksanaan Pengendalian Mutu Setiap Tahapan

Slide 3

Bagan Alir Pengendalian Mutu Pekerjaan Campuran Beraspal Panas

Slide 4

Lanjutan

Slide 5

PENGENDALIAN MUTU BAHAN Pengambilan contoh aspal dilaksanakan sesuai dengan SNI 03-6399-2000. Pengambilan contoh aspal keras dari tiap truk tangki dilaksanakan pada bagian atas, tengah dan bawah. Contoh pertama yang diambil langsung diuji di laboratorium lapangan untuk memperoleh nilai penetrasi dan titik lembek. Aspal di dalam truk tangki tidak boleh dialirkan ke dalam tangki penyimpan sebelum hasil pengujian memenuhi ketentuan. Apabila aspal keras tersedia dalam bentuk drum, maka pengambilan contoh aspal harus dilakukan untuk setiap akar 3 ( ³√ ) dari jumlah drum. Pengambilan contoh aspal keras

Slide 6

Pengambilan contoh Asbuton Butir harus dilakukan untuk setiap akar 3 ( ³√ ) dari jumlah kemasan. Sedangkan untuk asbuton butir yang diolah di lokasi pencampur harus dilakukan untuk setiap 50 ton atau diambil minimum 4 contoh dari setiap tempat penimbunan. Contoh pertama yang diambil harus langsung diuji di laboratorium lapangan untuk memperoleh kadar bitumen, ukuran butir maksimum dan kadar air. Asbuton Butir yang dipasok tidak boleh diterima sebelum hasil pengujian contoh tersebut memenuhi ketentuan. b) Pengambilan contoh asbuton butir

Slide 7

Peremaja digunakan untuk asbuton campuran hangat, yang terbuat dari pencampuran aspal pen 60 dengan bahan tambah, seperti BO (Bunker Oil), MFO (Merin Fuel Oil). Perbandingan antara kedua bahan tersebut disesuaikan agar diperoleh bahan peremaja yang memenuhi syarat. Umumnya perbandingan antara bahan tambah dengan aspal keras, antara 35-65 s/d 45-55 untuk memperoleh nilai PH 1000 (viskositas 100-200 detik pada suhu 82,2 oC). Pengambilan contoh peremaja dilaksanakan sesuai dengan SNI 03-6399-2000. Pengambilan contoh aspal keras dari tiap truk tangki dilaksanakan pada bagian atas, tengah dan bawah. Apabila peremaja tersedia dalam bentuk drum, maka pengambilan contoh peremaja harus dilakukan untuk setiap akar 3 ( ³√ ) dari jumlah drum. Pengujian yang dilakukan adalah pengujian viskositas dan kelekatan. c) Pengambilan contoh peremaja

Slide 8

Agregat di stockpile bervariasi dari titik ke titik, sehingga diperlukan usaha yang cermat untuk memastikan bahwa contoh pengujian mewakili keadaan agregat yang sebenarnya. Jika agregat tersebut mengalami segregasi , maka tidak boleh digunakan. Pengambilan contoh agregat dari stockpile dimaksudkan untuk pengujian abrasi setiap 5000 m3, untuk pengujian gradasi setiap 1000 m3 dan pengujian setara pasir untuk agregat halus setiap 250 m3. Guna mendapatkan contoh agregat yang mewakili dari suatu penyimpanan bahan digunakan sekop berujung persegi dan papan dengan langkah sebagai berikut: Tentukan tempat pengambilan contoh agregat pada tempat penimbunan dan masukkan papan kedalam timbunan diatasnya dengan tegak. Buang agregat pada daerah miring dibawah papan hingga diperoleh tempat yang rata dan datar untuk pengambilan contoh. Masukkan sekop kedalam bagian yang datar dan pindahkan satu sekop penuh agregat kedalam ember, lakukan dengan hati-hati. d) Pengambilan contoh agregat

Slide 9

PENGENDALIAN MUTU BAHAN Pengambilan contoh aspal dilaksanakan sesuai dengan SNI 03-6399-2000. Pengambilan contoh aspal keras dari tiap truk tangki dilaksanakan pada bagian atas, tengah dan bawah. Contoh pertama yang diambil langsung diuji di laboratorium lapangan untuk memperoleh nilai penetrasi dan titik lembek. Aspal di dalam truk tangki tidak boleh dialirkan ke dalam tangki penyimpan sebelum hasil pengujian memenuhi ketentuan. Apabila aspal keras tersedia dalam bentuk drum, maka pengambilan contoh aspal harus dilakukan untuk setiap akar 3 ( ³√ ) dari jumlah drum. Pengambilan contoh aspal keras

Slide 10

Metoda Pengambilan Contoh Agregat dari Stockpile Alat pembagi contoh (sample splitter)

Slide 11

Pengendalian Mutu Bahan

Slide 12

PENGENDALIAN MUTU CAMPURAN BERASPAL Bin dingin (cold bins) Tidak ada perubahan gradasi agregat. Perubahan gradasi dapat disebabkan karena perbedaan quari atau suplier. Jika terjadi perubahan gradasi agregat, maka harus dilakukan pembuatan FCK/JMF kembali. Agregat tidak bercampur. Pencampuran agregat antar bin yang berdekatan dapat dicegah dengan membuat pemisah yang cukup dan pengisian tidak berlebih. Pengisian yang baik dimungkinkan jika ukuran bak (bucket) loader lebih kecil dari bukaan mulut bin dingin. Kalibrasi bukaan bin dingin secara periodik. Bukaan bin dingin kadang-kadang tersumbat, misalnya jika agregat halus basah, agregat terkontaminasi tanah lempung, atau penghalang lain yang tidak umum seperti batu dan kayu. Perubahan kecepatan ban berjalan, dan ada operator yang mengontrol aliran agregat dan membuang material yang tidak perlu. 1. Pengendalian Mutu Proses Produksi

Slide 13

Pengering (dryer) Kalibrasi alat pengukur suhu Pemeriksaan suhu agregat yang dipanaskan Pengamatan pada asap yang keluar dari cerobong asap. Jika asap berwarna hitam berarti pembakaran yang terjadi tidak sempurna. Sementara jika asap berwarna putih berkabut (mengandung uap air) berarti agregat basah dan ada kemungkinan kadar air masih tertinggal setelah proses pengeringan. Ruang kontrol operasi Akurasi penimbangan agregat, aspal dan asbuton butir. Penimbangan yang tidak akurat atau timbangan yang tidak berfungsi baik, dapat menyebabkan terjadinya penyimpangan gradasi, kadar aspal atau kadar asbuton butir. Temperatur di hot bin dan drier. Temperatur di hot bin dan drier umumnya dapat dilihat dari ruang operasi. Pengendalian temperatur tersebut akan sangat menentukan temperatur pencampuran asbuton. Temperatur pencampuran yang terlalu tinggi atau terlalu rendah akan menyebabkan kualitas asbuton campuran panas atau hangat tidak sesuai dengan yang disyaratkan. Waktu pencampuran. Proses pencampuran asbuton, dimulai dari pencampuran antar agregat (dry mix), kemudian antara agregat dengan aspal atau peremaja (wet mix), dan terakhir setelah 3-4 detik wet mix kemudian dimasukkan asbuton butir. Waktu pencampuran dry mix umumnya 2-5 detik dan waktu pencampuran wet mix sekitar 40 detik. Waktu pencampuran yang terlalu lama akan berakibat aspal beroksidasi dan selanjutnya mengalami proses penuaan. Aspal yang mengalami penuaan akan kehilangan daya lentur dan lekatnya, sehingga perkerasan menjadi mudah retak.

Slide 14

PENGENDALIAN MUTU PRODUKSI Pemeriksaan terhadap hasil produksi AMP sangat diperlukan untuk mengetahui secara dini penyimpangan-penyimpangan yang terjadi, sehingga dapat diperbaiki dengan segera. Pengendalian secara visual meliputi, antara lain : Penyelimutan aspal pada agregat Terjadi penggumpalan atau tidak Warna asap; biru menyatakan kelebihan panas (overheating) dan warna asap putih berkabut (uap air) menyatakan kadar air pada agregat masih relatif tinggi. Tampak campuran di dalam bak truk yang rata menyatakan kelebihan panas atau kadar aspal atau kadar air relatif tinggi. Jika campuran menggumpal kemungkinan kurang panas (underheating)

Slide 15

Pemeriksaan secara visual hanya bersifat indikasi, pemeriksaan dengan alat juga harus dilakukan. Pemeriksaan tersebut meliputi : Pemeriksaan temperatur di atas truk pengangkut (dump truck) dengan pengukur suhu Pengambilan contoh uji untuk pengujian sifat-sifat fisik campuran dengan jenis, jumlah dan frekuensi sesuai dengan persyaratan. Hasil dan catatan pengujian berikut ini, yang dilaksanakan setiap hari produksi, beserta lokasi penghamparan yang sesuai harus disiapkan : Analisa ayakan (cara basah), paling sedikit dua contoh agregat dari setiap penampung panas. Temperatur campuran saat pengambilan contoh di instalsi pencampur aspal (AMP) maupun di lokasi penghamparan (satu per jam). Kepadatan Marshall Harian dengan detil dari semua benda uji yang diperiksa. Kepadatan dan persentase kepadatan lapangan relatif terhadap Kepadatan Campuran Kerja (Job Mix Density) untuk setiap benda uji inti (core). Stabilitas, kelelehan, Marshall Quotient, paling sedikit dua contoh. Kadar aspal dan gradasi agregat yang ditentukan dari hasil ekstraksi kadar aspal paling sedikit dua contoh. Bilamana cara ekstraksi sentrifugal digunakan maka koreksi abu harus dilaksanakan seperti yang disyaratkan SNI 03-3640-1994. Rongga dalam campuran pada kepadatan membal (refusal), yang dihitung berdasarkan Berat Jenis Maksimum campuran perkerasan aspal (SNI 06-6893-2002). Kadar aspal yang terserap oleh agregat, yang dihitung berdasarkan Berat Jenis Maksimum campuran perkerasan aspal (SNI 06-6893-2002).

Slide 16

PENGENDALIAN MUTU PRODUKSI Pemeriksaan terhadap hasil produksi AMP sangat diperlukan untuk mengetahui secara dini penyimpangan-penyimpangan yang terjadi, sehingga dapat diperbaiki dengan segera. Pengendalian secara visual meliputi, antara lain : Penyelimutan aspal pada agregat Terjadi penggumpalan atau tidak Warna asap; biru menyatakan kelebihan panas (overheating) dan warna asap putih berkabut (uap air) menyatakan kadar air pada agregat masih relatif tinggi. Tampak campuran di dalam bak truk yang rata menyatakan kelebihan panas atau kadar aspal atau kadar air relatif tinggi. Jika campuran menggumpal kemungkinan kurang panas (underheating)

Slide 17

Pengendalian Mutu Campuran Pengendalian Kuantitas dengan Menimbang Campuran Aspal Dalam pemeriksaan terhadap pengukuran kuantitas untuk pembayaran, campuran aspal yang dihampar harus selalu dipantau dengan tiket pengiriman campuran aspal dari rumah timbang

Slide 18

PENGENDALIAN MUTU PERKERASAN Pemeriksaan kesiapan alat penghampar Pemeriksaan campuran beraspal secara visual Pelaksanaan penghamparan 2. Pemadatan campuran beraspal 1. Pengendalian Mutu Proses Penghamparan dan Pemadatan Karakteristik campuran beraspal Kondisi lingkungan Ketebalan lapisan

Slide 19

Untuk pengujian kepadatan lapangan dilakukan dengan pengambilan contoh inti padat dari core drill atau memotong permukaan perkerasan. Selanjutnya contoh inti diuji di laboratorium untuk mendapatkan kepadatan campuran beraspal. Pengujian kepadatan dengan cara apapun agar dilaksanakan berdasarkan pengujian secara acak (random), dengan jumlah minimum tertentu, umumnya setiap jarak 200 m. Nilai rata-rata kepadatan dan nilai tunggal yang didapat dari pengujian kepadatan harus masuk dalam kriteria yang disyaratkan Pengujian kepadatan Ketentuan Kepadatan

Slide 20

Pengujian Permukaan Perkerasan Pemukaan perkerasan harus diperiksa dengan mistar lurus sepanjang 3 meter, yang disediakan oleh Penyedia Jasa, dan harus dilaksanakan tegak lurus dan sejajar dengan sumbu jalan sesuai petunjuk Direksi Pekerjaan. Pengujian untuk memeriksa toleransi kerataan yang disyaratkan harus mulai dilaksanakan segera setelah pemadatan awal, penyimpangan yang terjadi harus diperbaiki dengan membuang atau menambah bahan sebagaimana diperlukan. Selanjutnya pemadatan dilanjutkan seperti yang dibutuhkan. Setelah penggilasan akhir, kerataan lapisan ini harus diperiksa kembali dan setiap ketidakrataan permukaan yang melampaui batas-batas yang disyaratkan dan setiap lokasi yang cacat dalam tekstur, pemadatan atau komposisi harus diperbaiki sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.

Slide 21

Pengendalian Mutu Perkerasan

Summary: 10 Pengendalian Mutu

Tags: afianto faisol

URL: